Sabtu, 09 Februari 2019

Resensi Novel Bilangan Fu : Kompleksitas Teologi dan Ketokohan dalam Novel Bilangan Fu




Judul Buku : Bilangan Fu
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun : Oktober 2018
Tebal : x + 562 Halaman, 13,5 x 20 cm
ISBN : 978-602-424-397-5
Kisaran Harga : Rp. 120.000 (Harga Pulau Jawa)
Penghargaan : Khatulistiwa Literary Award 2008


Kegiatan yang biasanya ditujukan untuk menganalisis, memahami, dan mengatasi secara rasional masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan ini sesekali memang perlu diungkapkan dengan cara dan kalimat-kalimat yang indah. Tanpa menggugurkan mitos keindahan itu sendiri di dalamnya, sebaiknya memang cocok menggunakan sesuatu yang lebih menantang dan tidak menghilangkan makna serta nilai estetik yang terkandung di setiap rute kehidupan. Tetapi, akan kah menjadi tetap indah dan bermakna apabila dimuseumkan dalam kenang dan tanda tanya ?. Mungkin iya, mungkin tidak. Taruhan. Hidup ini bisa kapan dan dimana saja menjadi taruhan. Taruhan, kata Sandi Yuda dalam Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami.

Betapa menyedihkan melihat sesuatu yang sederhana, terlupakan, atau jarang disebut : tidak seorangpun yang menyambut atau memujinya, dan semua tampak mengganggap biasa saja atau remeh dari kacamata ideologi yang padahal tidak masuk akal. Tidak masuk akal apabila ia seorang pembaca tak tahu tempat, asal-asalan, netral, dan sebutan yang sama tidak masuk akal tetapi keluar dari praduga peribahasa tong kosong nyaring bunyinya. Maka dari itu, seperti memang sengaja di adakan rambu lalu lintas dalam Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami di sepuluh halaman pertamanya, sederhana dan tidak boleh dilupakan.

Apa yang tak selesai kau pahami disini, tak boleh kau tanyakan padaKu diluar.” (Hlm.10)

Penulis maupun pembaca sedang di harapkan oleh Novel Bilangan Fu berada di tempat paling terhormat, bukan pada posisi tengah-tengah, netral, atau sebuah tempat seperti di antara dua lilin persembahan sekte tertentu. Dalam tempat atau posisi yang dipilih pembaca, tercermin orang-orang yang latar belakang kehidupannya berbeda bisa memliki pendapat yang sangat berbeda, sama, atau bahkan tidak peduli dan tidak memahami sama sekali novel Bilangan Fu. Rangkaian cerita epik yang patut mendapat perhatian sekaligus sanjungan dengan aneka nilai, gagasan dan realitas yang dibidik penulis dalam novel ini dapat ditemukan pemadatannya yang lugas, karya yang sangat kaya dari berbagai aspek kajian juga demikian sarat beragam kritisme dari seorang pembaca maupun penelaah penafsiran lebih lanjut novel Bilangan Fu.

Jadilah pembaca yang bijak.


Ayu Utami dalam Bilangan Fu

Sebagian besar penggiat sastra tak ada yang tak kenal dengan sosok Ayu Utami, termasuk siapapun yang akrab dengan benda bernama buku novel. Biografi nya akan dengan mudah di temukan dalam berbagai sudut bagian belakang buku karya nya yang berbaris rapi di setiap toko buku, perpustakaan, maupun pengikut karya Ayu Utami. Kehadiran buku sebelumnya sudah mengawali demam hebat berbagai aspek sosial dan kebudayaan yang tabu maupun biasa sehari-hari yang dikemas dalam sebuah kisah di novel. Kemudian, pada kesempatan ditahun 2018, salah satu buku novel karya Ayu Utami terbit kembali setelah 10 tahun lalu terbit di tengah euforia agama. Persis seperti yang di ungkapkan Ayu Utami pada catatan dan terimakasih di edisi 10 tahun buku tersebut.

Perubahan pada percetakan kedua menambah kesan istimewa pada penulis serta novel Bilangan Fu. Novel yang di sebutkan istimewa oleh penulisnya sendiri pada catatan dan ucapan terimakasih akan membawa pembaca kepada rasa dahaga terhadap makna istimewa yang dimaksud penulis. Penulisan novel ini tidak mungkin atas dasar imajiner belaka untuk kelas seorang penulis seperti Ayu Utami yang telah menjadi pelopor kenaikan tahta sastra Indonesia. Sebelum kisah novel Bilangan Fu mengkristal, tokoh ‘aku’ atau ‘Sandi Yuda’ yang kemudian menjadi narator dalam novel ini oleh penulis Ayu Utami di ceritakan kembali olehnya pada sebuah pertemuan dalam novel Bilangan Fu atau dalam eksplisit kehidupan realistis. Jenaka juga turut dihadirkan bersama penulis dalam ungkapannya terkait kehadiran tokoh penting pada suatu acara kemasyarakat.


(Dalam acara inilah aku bertemu dengan seseorang yang kemudian menjadi dekat denganku. Ia seorang penulis. Namanya Ayu Utami. Sebuah kebetulan yang aneh, tanggal lahir kami sama. Hanya saja aku lebih muda sepuluh ahun darinya. Hubungan kami berlanjut sampai sekarang. Dialah yang menyunting karangan ini. Tepatnya, dialah yang menulis ulang kisahku, sehingga menurutku namanya lebih pantas tercantum di buku ini)” (Hlm.479)

Jika saja Gus Dur tidak sedang menjadi Presiden, di percaya bahawa ia bersedia datang” (Hlm.479)


Bagian ini membuat penulis seolah turut menjadi tokoh nyata pada novel Bilangan Fu, sehingga penulis membuat alur dengan teknik yang lugas pada isinya namun menjadi sangat variatif dalam bentuk dan alurnya dengan kehadirannya secara eksplisit di dalam novel tersebut. Bagi pembaca, hal ini seolah penulis memang ingin di akui dalam keberkaryaannya, dan memang begitu seharusnya seorang penulis. Terutama penulis yang memang sudah memiliki kredibilitas dan kualifikasi yang menawan atas karya-karya yang berhasil dilahirkan dengan baik.

Bilangan Fu yang sebelumnya di iringi oleh seri Bilangan Fu dalam novel lainnya yaitu Manjali dan Cakrabirawa; Lalita; Maya. Kemudian, seri Bilangan Fu tersebut menjadi keberangkatan awal Ayu Utami dalam menulis puncak istimewa yang di capai nya yaitu novel Bilangan Fu. Seri Bilangan Fu sendiri memiliki perbedaan yang signifikan yang juga dengan matang dikemas oleh penulis, Seri Bilangan Fu yang mengulas petualangan Sandi Yuda, Marja, dan Parang Jati dibumbui dengan latar arkeologi dan khazanah budaya semakin membuat jalan awal yang mulus untuk puncak novel Bilangan Fu itu sendiri. Ayu Utami dalam novel Bilangan Fu dengan baik melukis petualangan dengan narasi yang berisi gagasan-gagasan filosofis dalam setiap petualangannya.

Bagi pembaca awam, novel ini akan menjadi rumit sebelum akrab dengan 562 halaman yang di persembahkan. Ketebalan novel ini akan menjadi carut marut yang tidak bersahaja alias belum mengenal dengan tiga titik penting di dalamnya. Tiga titik tersebut dicantumkan pada bagian daftar isi (Modernisme; Monoteisme; Militerisme) sebagai triangulasi yang mungkin tidak akan dipahami oleh pembaca awam kecuali oleh penulis itu sendiri yaitu Ayu Utami serta pembaca yang sudah terbiasa dengan novel kritis dan dapat mengambil makna serta gagasan filosfis di dalamnya. Apakah ini bentuk keegoisan seorang penulis atau malah membuat tantangan serta kesempatan bagi para pembaca dalam memilih tempat atau posisi ketika menikmati novel Bilangan Fu ? Mungkin iya, mungkin tidak. Tidak perlu taruhan pada bagian ini, sebab sebagai penulis Ayu Utami sudah pasti memberikan kebebasan kepada pembaca dalam menikmati karyanya, dan sebagai pembaca siapapun berhak mengambil tantangan dan kesempatan tersebut.


Kompleksitas Teologi dan Ketokohan dalam Novel Bilangan Fu

Sandi Yuda yang diceritakan dalam novel Bilangan Fu merupakan seorang laki-laki yang sering melakukan ibadah pemanjatan tebing dengan karakter skeptis, keras, petaruh dan pencemooh nilai-nilai masyarakat sebelum ia taubat menjadi lebih baik dengan berbagai kisah yang di alaminya ketika menaklukan tebing Watugunung. Panjat Tebing atau istilah asingnya dikenal dengan Rock Climbing merupakan salah satu dari sekian banyak olahraga alam bebas juga bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan harus menggunakan peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya. Pada umumnya panjat tebing dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan dan tingkat kesulitan tertentu. Ia (Sandi Yuda) mempunyai seorang kekasih bernama Marja, seorang mahasiswa desain yang cakap memainkan situasi kebahagian, ketenangan, dan hasrat tubuh terhadap Yuda. Kemudian Parang Jati, pemuda berjari dua belas dari Watugunung, mahasiswa geologi ITB semester akhir yang berjumpa kali pertama dengan Yuda ketika kembali ke Bandung membeli tambahan pengaman untuk pemanjatan dan penaklukan tebing Watugunung di Bandung.

Tiga tokoh utama yang membetuk pola segitiga tersebut turut berkisah dalam novel tebal dengan petualangan menelusuri lekuk pikuk, ceruk dan gua Watugunung. Sebuah bukit batu di Selatan Jawa sambil membawa spiritualisme kritis menyusuri dan menembusi lapisan tebal kaki tangan ideologi modernisme, monoteisme dan militerisme. Novel yang juga di padu padankan dalam mengkritisi penularan paradigma ilmu-ilmu positif ke dalam ruang-ruang realitas yang sejatinya tak terukur seperti agama, kepercayaan dan kearifan tradisi lokal.

Pada pemanjatan tebing Watugunung, Sandi Yuda ikut takluk pada panggilan bunyi hu dari liang puncak Watugunung. Ia bahkan bermimpi atau lebih tepatnya ketindihan (Hlm.19-20) bercinta dengan Sebul, makhluk serigala-manusia-jantan-betina (Lihat Gambar Hlm. 405). Sebul mewahyukan kepadanya sebuah misteri; Bilangan Fu yang menyedot keingintahuannya. Ia sangat ingin menatap, mengenal dan memahami misteri hu, bilangan sunyi, bilangan yang memiliki properti nol sekaligus satu (Hlm.380). Semacam misteri yang harus di pastikan dengan gamblang oleh Sandi Yuda.

Adapun proyek modernitas yang di formulasikan dalam novel ini memang masih terkesan di campur adukan dengan konsep monoteisme. Sehingga akumulasi budaya yang terspesialisasi pada sub bab judul memperkaya tetapi juga menekan atas kontrol pemahaman kekuatan alam, kemajuan moral, dan bahkan kebahagian manusia. Namun demikian, yang diharapkan dan di cita-citakan atas pencerahan secara bertahap pada novel ini, tahapan yang bisa kembali ke belakang, ke depan, atau kesamping tetap pada koridor alur penulis.

Kalau kita berpikir pendek semua kelihatan jelas. Semakin kita berpikir panjang, semakin kita tahu bahwa begitu banyak di depan dan dibelakang kita yang hanya merupakan anggapan. Terlalu banyak yang tak bisa kita lihat, sehingga orang modern rasional sekalipun sesungguhnya hanya berpedoman pada anggapan dan kepercayaan sendiri” (Modernisme ; Parang Jati : Hlm. 159)

Modernisme adalah alat untuk memperalat. Takhayul adalah alat untuk di peralat.” (Modernisme ; Parang Jati : Hlm. 188)

Parang Jati, seorang bijak. Kelahiran pada bulan Kabisat Kayu dan Mbok Manyar-lah yang menemukan bayi berjari dua belas yang dibuang di sendang mata air ketigabelas, menamainya Parang Jati lalu menitipkan kepada Suhubudi seorang ahli kebatinan agar di rawat dan dari kedua orang inilah Parang Jati mendapatkan gnosis sanguinis; keseimbangan yang terdapat dalam Bilangan Fu. Asuhan Suhubudi membuat Parang Jati menjadi pemuda yang menguasai aneka kisah Babad Tanah Jawi. Ia bijak, teduh, iklusif namun kritis sekaligus setia pada tradisi lama yang luhur, membuat nya semakin elegan meski kisah tersebut sudah tertinggal zaman oleh orang-orang tertentu. Bersama Parang Jati pula, Yuda terlibat dalam strategi budaya menghadapi kesempitan fundamentalisme agama monoteisme yang mewujud dalam pribadi Farisi alias Kupukupu beserta kelompoknya. Kupukupu sebenarnya adalah adik Parang Jati yang juga ditemukan di sendang ketigabelas. Berbeda dengan Parang Jati, Kupukupu dirawat dan dibesarkan oleh sepasang suami istri sederhana yakni Parlan dan Mentel. Kehidupan keduanya berbanding terbalik antara Parang Jati dan Kupukupu. Farisi alias Kupukupu yang bersekutu dengan atau tepatnya diperalat oleh kekuasaan, kapitalisme dan militerisme, hingga akhirnya menjadi hakim jalanan yang sewenang-wenang pada nilai-nilai tradisi lokal yang apabila tidak sejalan dengannya di anggap menyesatkan padahal sekian lama tradisi lokal dan kepercayaan tradisional memelihara alam Watugunung.

Kepercayaan kepada Tuhan satu yang disebut monoteisme. Anggapan agama monoteis yang terangkum dalam tiga agama semit yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Di Indonesia terdapat dua agama tersebut yaitu islam dan kristen. Tanpa mendiskreditkan agama lain, penulis dengan apik toh mengulas agama lain yang terdapat di nusantara, bahkan kepercayaan serta mistisme yang hidup di pulau Jawa khususnya. Akan tetapi sangat di sayangkan sosok Farisi alias Kupukupu yang dihadirkan meyakini hanya ada satu Tuhan yang benar dan absolut, sedangkan diluar keyakinan mereka adalah salah dan sesat. Keyakinan tersebut padahal sesungguhnya menjadikannya sesuatu yang tidak bisa bebas dan berkembang, terkungkung oleh hukum-hukum yang telah ditentukan dan seolah harus di perjuangkan.

Sedangkan kepercayaan atau ritual yang dilakukan masyarakat setempat seperti orang Jawa masih tetap dihadirkan baik dalam kenyataan maupun pada novel Bilangan Fu ini. Keyakinan dan ritual campuran dari agama-agama formal dengan pemujaan terhadap kekuatan alam serta ruh yang di percaya sebagai sarana bantu dimana Yang Kuasa dapat menampakan diri secara tidak langsung kepada manusia. Keyakinan adanya Tuhan, dewa-dewa, utusan, malaikat, setan, demit, roh-roh alam, roh-roh manusia, berbagai jenis hantu, dan kepercayaan atas kekuatan alam sudah selayak serta sewajarnya mewarnai kehidupan serta mempengaruhi adat istiadat dan mengalami perkembangan nantinya.

Menyikapi nya dengan bijaksana. Sekali lagi, bijaksana. Begitulah penekanan pada novel Bilangan Fu, agar siapapun akrab dengan era toleransi dan meninggalkan era kelam intoleransi. Sikap toleran yang menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) terhadap keyakinan atau kepercayaan lain, ketimbang memusuhinya hanya akan menimbulkan kerugian. Hal tersebut juga dikisahkan pada segerombal manusia cacat yang tergabung dalam Saduki Klan sebagai wahana hiburan sirkus yang didirikan oleh Suhubudi, orang tua angkat Parang Jati. Bagian itu, ada rasa toleran sekaligus ketidakadilan sebab kehadiran segerombol manusia cacat dalam novel ini seolah diskriminatif dari kacamata kesetaraan manusia. (Jadilah pembaca yang bijak). Memahami Saduki Klan seperti menonton diskriminasi tertentu, tetapi apabila membuka mata dengan mindset bijaksana, begitu hebat segerombol orang cacat yang dihadirkan penulis penuh bakat dan kepercayaan diri yang luar biasa.

Selanjutnya dalam novel Bilangan Fu ini, militerisme sebagai sarana agresi di tangan para tiran, tetapi tidaklah bertanggung jawab jika penulis bermaksud mengambil sikap isolasionisme. Situasi pada akhir novel ini menuntut adanya kerja sama antar segitiga tokoh utama diluar pertahanan yang sangat rumit, bahkan bagi kelompok Farisi alias Kupukupu yang menganut prinsip hak individu berpijak pada keputusan kelompoknya. Teror intelijen dan pasukan gelap merajalela, memangsa penduduk yang di anggap menyeleweng dari kaidah agama yang seharusnya. Penghulu Semar pun menjadi korban. Setelah sebelumnya kegegeran terhadap kasus Kabur Bin Sasus (Pemuja Sesajen) yang di anggap bangkit dari kubur. Parang Jati menyadari strategi teror ini dan berusaha membongkarnya. Namun pada titik inilah, Parang Jati pun menjadi target si Kupukupu alias Farisi, para penambang, dan militer ikut memburunya.

Pada kesempatan menggali Goa Hu untuk penelitiannya, Parang Jati dan Yuda menemukan sisa mayat-mayat yang dahulu diisukan bangkit tersebut : Kabur bin Sasus, Penghulu Semar dan yang lainnya. Ia dan Yuda beserta para peneliti lainnya diinterogasi. Celakanya, pokok persoalan beralih, dari fakta bahwa peristiwa tersebut merupakan kerja sistematis intelijen menjadi isu aliran keagamaan baru dengan Parang Jati menjadi pendirinya. Akhirnya Parang Jati diajukan tuduhan utama. Bahwa ia memimpin aliran sesat dan mencampuradukan ajaran agama dengan kepercayaan dan ritual sesat dengan menggunakan mayat. Ia nyaris diadili para laskar Mamon (manusia monoteisme fanatik) pimpinan Farisi alias Kupukupu yang terlihat mengerti bahasa dan strategi militer. Namun ia sempat tertolong dengan kedatangan dua polisi Karna dan Kumbakarna kenalan Yuda ketika keduanya masih bertugas di pos jaga Watugunung. Parang Jati dibawa pergi.

Di tengah jalan, rombongan Karna, Kumbakarna dan Parang Jati tiba-tiba di hentikan paksa oleh pasukan tak dikenal (Hlm.528). Pasukan berjumlah sekitar sepuluhan itu memerintahkan ketiganya meninggalkan mobil dan berjalan ke arah hutan dengan tangan di belakang kepala. Ketiganya diberondong tembakan. Kedua polisi berhasil menyelamatkan diri, namun Parang Jati tertembak, ia sempat melangkah ke puncak Watugunung, Mengambil dan mengantongi batu endapan kelabu fosil labirin cangkang siput yang dahulu dilihat Yuda, batu bertuliskan Bilangan Fu. (Hu dan Fu, sama terikatnya dalam pengucapan ; Fosil labirin cangkang siput yang menjadi cover dari buku novel Bilangan Fu). Ia menghembuskan nafas terakhir tatkala kepalanya dielus sang ibu yang menemukannya dalam keranjang, Mbok Manyar.

Setelah kematian Parang Jati, Marja ke London meninggalkan Yuda karena pedih dan trauma yang tak bisa mereka atasi (Hlm. 507). Karena, jika Yuda adalah bilangan satu, Marja bilangan nol dan Parang jati adalah bilangan hu. Segitiga yang sisi-sisi nya melepaskan diri tanpa melupakan satu sama lain. Dengan kenangan dan pengharapan yang lebih penting adalah kebaikan, terutama kata-kata Parang Jati, Kebenaran itu selalu dalam future tense. Kebaikan selalu present tense. (Hlm.521). Akhir kisah misteri novel Bilangan Fu yang tragis namun menyisakan ruang bagi siapapun untuk menyelaminya berulang-ulang. Termasuk Kupukupu yang terlihat murung dan mengalami persoalan lain di sekitar lingkungannya : Eksistensi diri yang terguncang.

Bilangan Fu, "Mengapa mengenai bilangan kau hanya berpikir tentang urutan yang linear ? Lihatlah, ada bilangan yang terjadi karena lipatan, dan mereka membentuk yantra yang konsentris". (Hlm.305). Semua kebaikan memang menuju hal yang lebih baik seperti makna yang bergerak dari oposisi pasti ke misteri, matematis ke metaforis, satu ke nol, rasional ke spiritual, kesadaran modern ke takhayul, modern ke postmodern, paksaan ke dialog, dari dirty climbing ke clean climbing. Laku kritis dan Spritualisme kritis menjadi hangat untuk kemudian di pahami, ditafsir dengan lebih baik dalam cara yang lebih terjangkau dalam novel ini. Terimakasih kepada novel Bilangan Fu dan Ayu Utami yang memberi pelajaran teologi dan memberi semangat sejuk yang menantang untuk berjuang membangun teologi dan kompleksitas keberagaman yang ramah tamah terhadap budaya lokal dan memihak kelestarian ekologi.






Ayu Sri Ratna Yuningsih, nama lain Aysrayu termasuk semua akun social media (facebook, twitter, Instagram, line). Berjenis kelamin perempuan (Kalau kata Ayu Utami ; Monster Ubur-ubur). Alamat sekarang Jl.Kusumagendenng Gk IV/722 RT 72 RW 18 Kelurahan Baciro Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta. Sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga yang berusaha lulus dan wisuda tepat waktu, aktif dalam kegiatan literasi di social media, TBM (Taman Baca Masyarakat), dan komunitas jurusan OMIP (Organisasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan). Menulis opini, artikel, epistoholik dan resensi dibeberapa media koran. tak lupa juga di status di insta story atau pun whatsup story.๐Ÿ˜—

0 komentar:

Posting Komentar