Minggu, 16 April 2017

?



?
Oleh : ?


Ibarat pepatah yang mengatakan "Anak dipangkuan dilepaskan, Beruk dihutan belantara diangkat menjadi anak". Demikian pepatah sampaikan sehingga membuktikan kekurangan penghargaan dan keterbukaan potensi terhadap loyalitas suatu organisasi. Seperti orang asing yang bekerja pada suatu Negara, entah sebagai folunter, sebagai konsultan, atau pimpinan sebuah anak perusahaan multi-nasional, kebanyakan akan menjadi ahli tentang Negara tersebut. Mereka bukan hanya menyatu dengan kehidupan setempat, namun juga menghayati dan kemudian menuliskannya secara bagus. Tulisan-tulisan mereka kemudian dibukukan dinegaranya dan membuat mereka mendapat keuntungan populartas maupun materi.

Namun iklim pengkaderan sungguh sebuah problem berat bagi bakal calon kader atau masyarakat sekitar. Bukan saja kurang memberi iklim yang kondusif dalam proses pengkaderan. Namun juga penghargaan atas proses pembelajaran masih sangat kurang. Tidak jarang seorang kader yang punya etos militansi yang bagus justru dikucilkan, didiskriditkan, dituduh “sok intelektual”. Senior terhadap bakal calon kader lebih memperhatikan kegiatan komplatif yang memiliki kemampuan relationship (hubungan sosial), yang mampu membuat intrik justru mendapat prioritas mewarnai pergerakan. Tidak heran juga bila tiba-tiba seorang kader yang sudah terlibat dalam pergerakan menjadi resah gelisah karena bahasa militansi mulai diambang kepunahan dan bilapun masih dipakai, cara memakainya kacau balau, tak sesuai dengan kaidah-kaidah NDP (Nilai Dasar Pergerakan) yang baik dan benar.

Gaya hidup yang pergerakan dharma-kan hanya mengenal kata “Lawan” yang masih mengandung pengertian koridor otoritarianisme terhadap perjuangan prodemokratis bukan sebagai lawannya, tetapi musuh. Filsafat musuh dan lawan inilah yang tampaknya mendasari seorang kader terhadap masyarakat dipanggung politik dan pemikiran. Dengan persfektif itu, seorang kader seharusnya mampu bergerak dengan gesit. Melewati dasar pemahaman yang tidak antagonistik seperti hitam dan putih yang nantinya akan menuai hasil dipentas kepemimpinan organisasi lewat berbagai pintu dan kelompok politik. Transformasi diri yang tengah dialami seseorang dewasa ini dengan masuknya revolusi komunikasi kedalam berbagai lapis dan segi kehidupannya. Pengkaderan mempengaruhi gaya hidup, cara hidup, sistem kerja, konflik politik, dan juga kesadaran mental yang baru. Seorang kader pergerakan mendapat sebuah tantangan. Dengan kata lain, revolusi ini merayu, menggelitik, menantang barangkali juga memaksa seorang kader untuk mentransformasikan dirinya kedalam alam pergerakan yang baru dibawanya.


No !


Kemungkinan kompromi disaat menjelang kaderisasi atau perekrutan kader. Dimana proses itu merupakan ketegangan antara individual tradisionalis dan pragmatis dengan idiom-idiom pragmatis-rasional berorganisasi dalam mempertahankan kepemimpinannya. Apalagi tentang kepemimpinan menjadi otoritas yang harus dikendalikan oleh seorang kader. Sehingga hal tersebut menimbulkan sikap tidak pararel dengan cara pandang pemikiran seorang kader yang original. Pandangan seperti itu bisa menjadi persoalan dikemudian hari. Betapapun, arus liberalisasi pemikiran sangat besar, gerakannya seperti bola salju dan memungkinkan sikap egoistis ke depan tetap memimpin. Mereka dibiarkan turun ke jalan seperti memperjuangkan nasib kepada penguasa. Jadi, apa yang sudah didapat ? Setelah kata-kata mulai habis berteriak dan air mata mulai mengering.

Kita semua sudah paham mental semua pedagang yang pasti tak mau rugi, maka dalam bernegoisasi dengan bakal calon kader pun akan mengedepankan keuntungan yang bisa didapat. Bahkan yang disebut demonstrasi hampir tak jauh beda dengan unjuk rasa yang sering menimbulkan konflik kepentingan diantara para kader itu sendiri, sampai nyaris menimbulkan konflik horizontal. Bila hubungan diantara kader dan senioritas tidak bertele-tele tanpa saling menunggu, maka jalur kordinasi dan instruksinya pun menjadi lebih cepat kepada penguasa ketimbang mengandalkan alternatif spekulasi itu lewat unjuk rasa atau menodongnya dengan kalimat “Masak tak bisa mengeluarkan sumber dananya untuk menyelamatkan tumpah darah ?”

Ketika masa kesetian yang panjang atau pendek sering terjadi. Si Kader berhenti membatasi dirinya sendiri dari tindakan dan tanggung jawab. Tidak mengherankan bahkan seandainya percintaan dan kebutuhan juga terjadi dalam keasyikan seorang aktivis. Diri mereka menjadi subjek-subjek individual pada gilirannya, mereka dapat dengan sedikit memanipulasi diri, mengisi sifat-sifat spesifik mereka dengan daya pikat pahlawan-penyelamat. Penguraian diri menjadi kejutan sebagai contoh yang mengkarakterkan kepemimpinan transformasial kepentingan diri maupun kelompok melalui kepedulian terhadap tujuan yang lebih luas dengan unsur-unsur pribadi yang tampil sebagai sosok yang kharisma, kerja keras, ambisius, keakraba, connectedness, pola piker global, kekayaan mental dan spiritual, akan tetapi sangat menyedihkan jika itu hanya untuk melengkapi motif mencari keuntungan. Masih banyak tuntutan sejarah yang tak dapat ditunda lagi. Kita tengah menunggu lahirnya tokoh legenda yang berani berteriak lantang menjawab pertanyaan zaman baru ini. Sosok kader dari organisasi manapun yang mengerti dharma bakti tertinggi dengan pengadian tanpa pamrih terhadap bangsa dan negaranya.







Zaman berubah
Aysrayu, 2017


0 komentar:

Posting Komentar